Tentang Rindu Yang Bakal Terubat

Palu gendang bertali pantas 
Alun degup berderap kencang
Hati girang meletus deras
Rindu hati bukan kepalang

Jasad jauh beribu batu
Namun pisah hanya sejenak
Dua hati terjalin satu
Takkan lerai walau terjarak

Terbang tinggi sayap garuda
Depa besi membelah awan
Kanda datang bertemu dinda
Kasih tulus mengubat rawan

Tentang Birat-Birat

Birat-birat itu adalah
Biru lebam yang belum padam
Seakan cakaran yang cukup dalam
Pada tubuh dan jiwamu
Takkan kau lupakan
Meskipun bertahun lamanya
Meskipun dia sudah lama mati
Dendam marah itu masih sebati
Marak kesumat
Merah meligat
Api kecewa seorang anak yang terbangsat.

Tentang Pergelutan Setiap Malam

Setiap malam
kau harus bergelut dengan
suara bisik desisan yang
mengumpan gundah dan amarah:
kau tak layak
kau tak mampu
siapa engkau
apa hak kau

Dan setiap malam
kau tak mampu terlelap
mata parau memandang ke
siling bilik yang mengejek mencebik:
kau pasti gagal
kau anak tersial
kenapa engkau
mengapa kau

Setiap malam
kalaulah mampu ingin aku
pinjamkan selaut kasih dari
hati tulus ini agar menjadi
perisai yang melindungimu dari
bisik cebik itu
dan menyelimutimu 
agar lena dibuai kasihsayang 
selamat dalam teduhan tenang. 

Tentang Secangkir

Secangkir kopi semanis puan 
Buat pembuka hari terindah
Syukur hati bertindan-tindan
Kasih adinda perawat gundah.

On Neverness

I will always remember
that evening, humid, balmy
you were dressed in white
crowned by fiery stars
like the most graceful
swan that swims serenely
in a lake of her own joy. 

Meanwhile, I am just
a speck of sand
here amongst these
people who love you.

And as the crowd rises to its feet
in celebration 
I shove my hands in my pockets
and look away for just a brief 
moment 
lost in the neverness of us.