These days I tread in silence
In patient reverie
With faith in His Munificence
I spend each day with thee
These days I do remember
And softly meditate
On past travails and thunder -
Reflections inundate!
These days I wait and wonder
If ever future holds
Or if perhaps t’was never
My fortune to behold
These days I pass in silence
I wait resignedly
For Him to pass my sentence
My fate, eternal be!
On Record
I write this to you
An unnameable and unknown you
From across these miles
These years
These centuries
As a record
of my erstwhile existence.
On Being Grim
He looked right at me
and said,
“It is going to be grim.
You need to be strong
for your mother,
and your family.”
I just looked away,
desperately trying to hide
my breaking heart.
Tentang Beban
Takkan Tuhan menambah beban Melainkan kau mampu menahan Atas daya setiap insan. Hasil baik semua usaha Hasil jahat semua durjana Semuanya ‘kan kau tanggung jua. Maka doa dipohon angkat: Wahai Tuhan pemilik Rahmat! Jangan kami terkira laknat Andai kami terkhilaf ingat. Wahai Tuhan segenap alam! Jangan kami Engkau bebankan Persis kaum dimasa silam. Wahai Tuhan maha semesta! Jangan kami Engkau bebankan Sedang tiada kami berdaya. Dan maafkan silapnya kami Ampunkanlah dosanya kami Rahmatilah kesemua kami Yang bertegas menentang musuh Engkau jua Pemberi Ampuh Beri kami Menang yang Kukuh. Terilham oleh Al Baqarah 286.
Tentang Masa, Iman dan Pesan
Demi masa - ya, sesungguhnya Insan penuh rugi hidupnya Kecuali yang menaruh iman Dengan benar, menyampai pesan Dengan sabar, menyebar pesan. Terilham oleh Al Asr.
Puisi IV – Ulangtahun ke-Empatbelas
Jagung bertih buat bekalan Jauh kelana ke Tanah Bali Kandung kasih berpayung intan Bershukur hamba kurnia Ilahi Masjid Nyalas teguh adanya Tiang seri umat Melaka Empat belas tahun bersama Kasih patri selama lama
Puisi III – Pantun Buku
Langit redup bertiup bayu
Arak awan melitup surya
Nikmat hidup berteman buku
Cerah nian menyeri jiwa.
Puisi II – Pantun Temasek
Kalau tuan singgah Temasek Jangan lupa beli durian Kalau hati tuan terusik Usah pendam keseorangan Sudah resam alam bermarga Helang mana berkawan pipit? Sudah resam berumahtangga Lidah mana tiada tergigit? Sungai Jurong airnya bersih Nyaman alir di hari petang Damai hati bersulam kasih Damai jiwa diulit sayang.
Poem II – Putera Puteri
T’was once a shining, splendoured thing Such hopes that Life itself daren’t cage Eyes that once gleamed with love ablaze Now dulled by slow, relentless age. And for its passing do I pray That you do find amidst your Rome a Life that shines, with splendour still And may Peace find its harboured home.
Puisi I – Mata Hati
Cerah mata memandang kamu
Cerah hati menumpas ragu
Dua jiwa berkongsi hidup
Takhta kasih berhias sanggup
Redup mata menatap kamu
Redup hati nyaman beradu
Naung jiwa di taman syahdu
Sanggul nyawa dirangkul baldu
Sungguh berkat hidup berdua!
Penuh rahmat hidup bersama!
Kasih mata memandang kamu
Kasih hati nyaman bertemu
Tiada berpisah walau terpisah
Di taman abadi bertemu wajah.
