#896 On Wittgenstein’s Final Years

Today, as I was reading about the final years of Ludwig Wittgenstein, I am reminded that actually we need quite little to truly live on, and what we imagine to be “essential” are actually many times in excess of what we actually truly need.

How have we allowed ourselves to be blinded to such an ungodly degree? Why aren’t we content to live simply by the laws of His decree?

#895 Tentang Fitrah Insani

Kau tak perlu harus selalu sempurna
Ada harinya kau akan merasa terkalah
Merana dalam perasaan marah dan kecewa
Atau murung dalam gelora sedih dan gelisah
Itu semuanya adat kehidupan insani

Kau cuma harus terima takdir seadanya
Bahwa Dia menyaksikan dan menutur kehidupan
Akurlah bahwa kau cuma manusia biasa
Dan akan terus gagal dan gagal dan kemudian bangkit melawan
Itu fitrahmu yang harus kau insafi

Seawalnya kau menerima hakikat ini
Mengawalkan ketenangan jiwa yang kau cari.

#887 Tentang Ramadan dan Pengatasan Diri

Di ambang Ramadan ini
Bertekadlah untuk menjadi lebih baik
Untuk merintis jalan sepi
Lantas meniup seruling gemersik
Yang memanggil pada jiwa yang lebih utuh
Yang menyeru pada hati yang terluruh:
Kau mampu mengatasi diri sendiri
Merajai nafsu kehendak yang penuh iri hati.

#861 Tentang Sang Subahat

Dia adalah anasir beracun
Yang hanya layak untuk kau elak
Dalam setiap saf yang berhimpun
Akan ada Dia yang berbisik jelak:

Apa guna berfikir panjang?
Nikmati saja dunia dan seisinya!
Berbuaslah di setiap ranjang
Persetankan apa kata mereka!

Justeru perlakuan Sang Seteru
Jadi subahat bagi setiap jenayahmu.