Damai hati di taman hijau
Cerah biru langit angkasa
Tiada sedih tiadalah risau
Serah pada Tuhan yang Esa.


"How we spend our days is, of course, how we spend our lives." – Annie Dillard
Damai hati di taman hijau
Cerah biru langit angkasa
Tiada sedih tiadalah risau
Serah pada Tuhan yang Esa.

Dalam kejauhan ini, aku berpegang erat
Pada tali rindu yang mengikat aku padamu
Sedang mana setiap benangnya terpintal dari selirat
Seberkas kenangan sukaduka yang jitu
Apakah hanya aku seorang yang gigih memahat
Setiap ukiran pada rumah kerinduan ini?
Atau engkau pun jua turut sama bersubahat
Dalam kepenjaraan ini, yang terlalu asing dan sepi?
Aku inginkan kepastian
Bahwa bukan hanya aku keseorangan
Memeluk bayang rindu yang hanya menghampakan.
In her twinkling eyes,
Behold: the fruits of her Love,
Her sons, Mother’s pride.
In fret, dejected
In sadness, disconsolate
Darkness defeats me.
Dalam ragu dirundung entah
Dalam sunyi dirundung gentar
Dalam gelap mencari arah
Dalam duka mencari sinar
Apa ada cinta dicari?
Apa ada cahya menanti?
We jump through these hoops
For what? Why do we play these
Performative games?
Ada kalanya
Dalam kesibukan hari-hari yang menderu
Aku teringatkan kamu:
Tautan hati muda yang mempesona
Gayutan suara di kehangatan malam
Denyutan jiwa yang menginginkan cinta
Dan deruan tangis yang enggan padam
Dan aku bertanyakan
Dalam bisikan suara hati yang paling perlahan
Yang ingin bertanyakan kamu:
Apakah kau menangkan apa yang kau idamkan?
Apakah erti cinta yang singgah hanya semusim sedan?
Apakah makna kenangan yang masih enggan meninggalkan?
Aku telah memilih jalan ini
Berapa tahun lamanya tak kuingat lagi
Semuanya terimbas penuh berkabusan
Yang dapat aku kenangkan
Adalah seraut wajah pilihan
Seorang anak muda yang berimpian
Kemenangan yang paling mahal
Yang aku sangkakan
Aku boleh memilih kek ini
Dan memakannya tanpa segan sepi
Ternyata rupanya jalan ini
Dan juga jalan-jalan lainnya
Semuanya adalah fatamorgana picisan
Yang kini telah aku diajarkan
Adalah bahwa semua jalan
Yang terbentang itu menuntutkan
Bayaran yang paling mahal:
Harga untuk setiap kek yang kau inginkan
Adalah darah keringat yang gugur bercucuran
Dan akibat kejadianmu yang tak mampu kau tahankan.
Setiap insan yang mengenangkan zaman mudanya
Seharusnya merenung dengan sedikit rasa malu
Mengingatkan segala urutan peristiwa dan perilaku
Tatkala masih bergelut dengan kementahan usia
Ah! Terlalu banyak yang masih aku sorokkan
Dari diri sendiri, segala perbuatanku yang dungu
Segala kebodohan dan kezaliman yang bertalu
Semuanya perlakuan yang tidak aku banggakan
Allah ampunkan aku yang masih terlalu bebal
Meski masa telah menghanyutkan ingatan mereka
Aku masih enggan mampu melupakannya
Semuanya dosa ingkar yang melumut tebal,
kekal.
Dalam kesenjaanmu yang bergentaran
Masih lagi kau melihat jelmaan itu
Sang suami yang memberantakkan
Jiwamu dan ikatan perkahwinanmu
Apa guna sesalan yang enggan padam?
Apa erti kerinduan yang tak pernah redam?
Dari segala yang engkau mahukan darinya
Takkan kau dapat walau seinci sehasta
Dia telah memilih suatu kehidupan yang berbeza
Dan engkau tertinggal terasing dalam duka
Dalam kesedihan yang menyesakkan
Tiada apa yang tersisa untukmu
Sang pengingkar itu takkan pulang
Dan kerinduanmu adalah suatu permainan usang
Yang takkan mampu engkau menang.