Beginilah aku, terdampar dan tercacar
Dicantas dan ditebas seolah lalang
Racun yang bersulam senyuman hambar
Namun aku enggan mengaku malang
Berpestalah engkau dengan permainan basi
Yang menuntut pengorbanan malamsiang
Aku berhijrah dengan jiwa yang berani
Yang engkau menang cuma piala berduri.
#948 On Grand Dreams
Youthful dreams, once grand:
just my selfish ambition
dressed in noble robes.
#946 On Futures Patiently Unfolding
Earnest truths now told
With bold honesty; our futures
Patiently await.
#945 On Last Minute Calls to Duty
With little notice,
still the room fell into place.
Quiet pride settles.
#943 On Quieter Days
Quiet days, full heart —
Graced by God’s boundless fortune,
Freedom takes new form.
#941 On Strange Lingering
Leaving, yet lingering —
the self keeps two doors open,
neither fully shut.
#935 Tentang Mulia Yang Tiada Menagih
Segala yang kau dendamkan
Mungkin hanya kerana tercalarnya hati
Gurishiris pada lembaran perasaan
Seorang insan yang merasakan diri
Tidak dihormati, tidak dikasihi, terabai
Seolah tidak diambil peduli
Sedangkan setiap hunusan pada perisai
Jiwamu langsung tiada lut, tiada terhakis:
Kau tetap teguh walau terbadai
Muliamu tak menagih mengemis
Kau akan berlalu tanpa kesal, tanpa tangis.
#931 Tentang Madah Berhelah
Mulut manis berjambang mulus
Madu kata penuh berhelah
Dalam hati keris terhunus
Siap sedia menikam sumpah.
#930 Tentang Bara Digenggam
Dalam suram kelambu malam
Azam dendam ditancap kemas
Persis bara erat digenggam
Agar janji tertunai deras.
#929 Tentang Hujung Minggu
Larut hari meniti senja
Deras masa beransur tenang
Hela nafas menyurut lega
Runut hati kembali girang.
