Eyes, paws raised up high,
A prayer for Benevolence:
Bastet cast in bronze.


"How we spend our days is, of course, how we spend our lives." – Annie Dillard
Eyes, paws raised up high,
A prayer for Benevolence:
Bastet cast in bronze.

Tenang-tenang, hatiku
Jangan digusar apa yang tak mampu kau ubah
Hitunglah hari-hari yang bakal berlalu
Hadapi semuanya dengan damai, tanpa ammarah
Kerana Masa itu bukan lawanmu
Hanya Gembala bagi jiwa-jiwa yang mencari arah
Damai-damai, jiwaku
Masa bakal merawat lukamu.
Thin beads of Sweat fall
Unto the parched forest floor
Trees cry out for Rain.
Sunlight peers through leaves;
The glow of Life suffuses
Through my aching Heart.
Cahya suria mengintai riang
Kicau unggas menyapa mesra
Berat hati menjadi senang
Kelat hati terpujuk jua.

Seawalnya di waktu muda dahulu
Aku merasakan inilah drama teragung
Menghunus keris pertikaian berlawan adu
Menepis hujah berbahas rencong
Mematahkan sendi lawan dan kawan
Dunia politik seolah pentas terbesar
Mengagas wawasan bangsa merdeka
Mengayuhkan ribuan yang mendengar
Membakar jiwa sejuta anak muda
Meneraju arus kisah dan sejarah
Namun di usia asar begini
Aku mula terkelu menaruh waswas
Apa ertinya pertikaian bengis ini
Hanya demi menjulang ego yang mengganas?
Hanya memupuk nafsu yang ditiup Sang Seteru?
Umi
Dalam usia senjamu ini
Kami titipkan doa yang paling ikhlas
Semoga hari-harimu damai berseri
Dihias kenangan bahgia yang membekas
Tenang dalam tatangan Ilahi
Meski perjalananmu tak selalu indah
Terlalu banyak kepahitan yang menghujan
Dan kau terlalu sering merenang gundah
Namun, kau tetap cekal meniti kehidupan
Tetap dalam arah yang bertabah
Umi
Di kesenjangan antara mimpi dan realiti
Di sini kami berdiri
Keluargamu yang takkan jemu menjulang
Sayang kami pada ibunda seorang
Ratu hati kami
Umi yang terpaling kami kasihi.
Seolah graviti
Kesunyian ini menarik mencabik aku
Sehingga aku jadi dungu terpaku
Merintihkan malam-malam yang sepi
Seiring hari-hari
Yang berlalu laju menderu
Aku jadi bungkam, lidah membeku
Mengeluhkan nasib jiwa begini
Selautan gundah
Melingkungi hati yang merekah
Mengenang harapan-harapan yang terpatah.
Pada kesunyian malam musim luruh itu
Kau merindukan ngiauan kucing di lereng jalanan
Sambil membelek kenangan pada tiupan angin bayu
Dalam malam-malam tropika yang hangat nyaman
Apakah erti arah kehidupan yang gigih
Apa makna jalan getir yang kau pilih
Ketika ingatan zaman indah membuak ganas
Dan kau hanya mampu tunduk tertewas?
Rindu itu bukan seteru
Tapi tali yang mengikat engkau kembali padaku.
Dalam hening subuh yang syahdu
Aku berdoa merayu pada-Mu:
Tunjukkanlah jalan yang terbaik
Agar terdamai jiwa-jiwa yang terbalik
Jabatkanlah hati kami yang runsing
Kembalikan kedamaian yang terasing
Pandulah kami agar dapat kembali
Dalam dakapan mesra sepasang suami istri.