Dalam sayup gerimis hujan
Debar hati menunggu siang
Dendam rindu tidak tertahan
Rindu pada adinda sayang.
#847 Tentang Damai Hati di Alam Luas
Damai hati di taman hijau
Cerah biru langit angkasa
Tiada sedih tiadalah risau
Serah pada Tuhan yang Esa.

#846 Tentang Bayang Rindu
Dalam kejauhan ini, aku berpegang erat
Pada tali rindu yang mengikat aku padamu
Sedang mana setiap benangnya terpintal dari selirat
Seberkas kenangan sukaduka yang jitu
Apakah hanya aku seorang yang gigih memahat
Setiap ukiran pada rumah kerinduan ini?
Atau engkau pun jua turut sama bersubahat
Dalam kepenjaraan ini, yang terlalu asing dan sepi?
Aku inginkan kepastian
Bahwa bukan hanya aku keseorangan
Memeluk bayang rindu yang hanya menghampakan.
#845 On Mother’s Pride
In her twinkling eyes,
Behold: the fruits of her Love,
Her sons, Mother’s pride.
#844 On Darkness
In fret, dejected
In sadness, disconsolate
Darkness defeats me.
#843 Tentang Mencari Cahya
Dalam ragu dirundung entah
Dalam sunyi dirundung gentar
Dalam gelap mencari arah
Dalam duka mencari sinar
Apa ada cinta dicari?
Apa ada cahya menanti?
#842 On Performative Games
We jump through these hoops
For what? Why do we play these
Performative games?
#841 Tentang Kerinduan Yang Enggan Meninggalkan
Ada kalanya
Dalam kesibukan hari-hari yang menderu
Aku teringatkan kamu:
Tautan hati muda yang mempesona
Gayutan suara di kehangatan malam
Denyutan jiwa yang menginginkan cinta
Dan deruan tangis yang enggan padam
Dan aku bertanyakan
Dalam bisikan suara hati yang paling perlahan
Yang ingin bertanyakan kamu:
Apakah kau menangkan apa yang kau idamkan?
Apakah erti cinta yang singgah hanya semusim sedan?
Apakah makna kenangan yang masih enggan meninggalkan?
#840 Tentang Bayaran Yang Paling Mahal
Aku telah memilih jalan ini
Berapa tahun lamanya tak kuingat lagi
Semuanya terimbas penuh berkabusan
Yang dapat aku kenangkan
Adalah seraut wajah pilihan
Seorang anak muda yang berimpian
Kemenangan yang paling mahal
Yang aku sangkakan
Aku boleh memilih kek ini
Dan memakannya tanpa segan sepi
Ternyata rupanya jalan ini
Dan juga jalan-jalan lainnya
Semuanya adalah fatamorgana picisan
Yang kini telah aku diajarkan
Adalah bahwa semua jalan
Yang terbentang itu menuntutkan
Bayaran yang paling mahal:
Harga untuk setiap kek yang kau inginkan
Adalah darah keringat yang gugur bercucuran
Dan akibat kejadianmu yang tak mampu kau tahankan.
#839 Tentang Dosa Ingkar Yang Melumut
Setiap insan yang mengenangkan zaman mudanya
Seharusnya merenung dengan sedikit rasa malu
Mengingatkan segala urutan peristiwa dan perilaku
Tatkala masih bergelut dengan kementahan usia
Ah! Terlalu banyak yang masih aku sorokkan
Dari diri sendiri, segala perbuatanku yang dungu
Segala kebodohan dan kezaliman yang bertalu
Semuanya perlakuan yang tidak aku banggakan
Allah ampunkan aku yang masih terlalu bebal
Meski masa telah menghanyutkan ingatan mereka
Aku masih enggan mampu melupakannya
Semuanya dosa ingkar yang melumut tebal,
kekal.
