Aku telah memilih jalan ini
Berapa tahun lamanya tak kuingat lagi
Semuanya terimbas penuh berkabusan
Yang dapat aku kenangkan
Adalah seraut wajah pilihan
Seorang anak muda yang berimpian
Kemenangan yang paling mahal
Yang aku sangkakan
Aku boleh memilih kek ini
Dan memakannya tanpa segan sepi
Ternyata rupanya jalan ini
Dan juga jalan-jalan lainnya
Semuanya adalah fatamorgana picisan
Yang kini telah aku diajarkan
Adalah bahwa semua jalan
Yang terbentang itu menuntutkan
Bayaran yang paling mahal:
Harga untuk setiap kek yang kau inginkan
Adalah darah keringat yang gugur bercucuran
Dan akibat kejadianmu yang tak mampu kau tahankan.
#839 Tentang Dosa Ingkar Yang Melumut
Setiap insan yang mengenangkan zaman mudanya
Seharusnya merenung dengan sedikit rasa malu
Mengingatkan segala urutan peristiwa dan perilaku
Tatkala masih bergelut dengan kementahan usia
Ah! Terlalu banyak yang masih aku sorokkan
Dari diri sendiri, segala perbuatanku yang dungu
Segala kebodohan dan kezaliman yang bertalu
Semuanya perlakuan yang tidak aku banggakan
Allah ampunkan aku yang masih terlalu bebal
Meski masa telah menghanyutkan ingatan mereka
Aku masih enggan mampu melupakannya
Semuanya dosa ingkar yang melumut tebal,
kekal.
#838 Tentang Rindu Di Hujung Senja
Dalam kesenjaanmu yang bergentaran
Masih lagi kau melihat jelmaan itu
Sang suami yang memberantakkan
Jiwamu dan ikatan perkahwinanmu
Apa guna sesalan yang enggan padam?
Apa erti kerinduan yang tak pernah redam?
Dari segala yang engkau mahukan darinya
Takkan kau dapat walau seinci sehasta
Dia telah memilih suatu kehidupan yang berbeza
Dan engkau tertinggal terasing dalam duka
Dalam kesedihan yang menyesakkan
Tiada apa yang tersisa untukmu
Sang pengingkar itu takkan pulang
Dan kerinduanmu adalah suatu permainan usang
Yang takkan mampu engkau menang.
#837 Tentang Keakraban Rakan Sekerja
Pinjamkan waktu dan keringatmu
Buat sehela masa setahun atau sedasawarsa
Agar kita dapat membina sesuatu
Yang lebih besar dari kau dan aku dan kita
Yang sebenarnya hayat kita ini
Hanya sekelip datang dan sejenak tiba
Dan meski kita berganding bahu dan tangan kini
Esok belum tentu masih ada untuk kita
Maka dalam kehangatan masa yang ada
Aku hargai engkau yang memilih berada di sini
Sepermainan kita ini aku hargai kejulangannya
Sedang engkau dan aku masih mencium lencana ini
Esok entah apa adanya
Hari ini kita sanjung seakrabnya.
#836 Tentang Luruhan Hati
Separuh nyawa
Merindu damba
Separuh masa
Merisau seksa
Separuh jiwa
Terparut luka
Separuh dunia
Bergelap duka
Seluruh wajah
Meluruh tangis
Merapuh patah
Terluluh gilis.
#835 On Being Marooned in the Overwhelm
Here I am
Marooned in the overwhelm
Gasping grasping for sweet sweet air?
What am I
Between the earth and sky
Mere flesh and skin and unkempt hair?
Where am I
Lost in the labyrinth of the eternal Lie
Am I doomed to bask in dark Despair?
Who am I
When the shroud of Death is nigh
What have I made from all these years
What do I have to show for, after all these tears
When I plant my feet on that final Stair?
#834 On Leadership as a Means of Upholding and Uplifting Human Dignity
Heap praise in public
And reprimand in private:
Preserve dignity!
#833 Tentang Sari Rindu
Malam bulan rindu bersari
Bagai pungguk hamba mendamba
Separuhnya nyawa kuberi
Demi cinta kasih selama.
#832 On the Radiant Tribune
The People's vote have rung a wake-up knell
A dynasty o'erturned with their consent
And now above the rich men's citadel
So proudly flies the red flag of Dissent
A radiant tribune to avenge the poor
Now Capital must heed the People's roar.
#831 Tentang Naungan Awan
Pada wajah tenangnya pagi
Tercoretlah awanan larat
Segar mesra menyapa kami
Naung agung seluruh tempat.

