#758 Tentang Hidup Di Hujung Pisau (Kamu Pasti Tidak Perduli)

Jangan kau tangisi nasib mereka
Yang telah menghabiskan sisa-sisa usia muda mereka
Untuk membela dan menjulang nasib engkau
(Kamu pasti tidak perduli)

Sedang engkau menatap kitab-kitab
Mengatur tiap langkah catur dari jauh
Mereka itulah yang bergadang nyawa dan harta
Bertarung dengan meriam air dan tinju penguasa
Berguling-guling di jalan raya

Dan kini kau di mercu kuasa yang dahulunya tertunda
Janji dua puluh lima tahun tertunai jua

Dan bagaimana dengan nasib mereka?
Ya, ada yang kini bersilat di pentas kuasa
Ada juga yang bergelumang dengan laba
Ada pula yang terkandas tanpa ada-apa

Itu, tak perlu kau terlalu risau!
(Sememangnya itulah habuan yang seeloknya
Bagi mereka yang memilih untuk hidup di atas hujung pisau.)

#756 On Gifts From An Absent Father

You gave me this, Pa:
This burning fire unquenchable
This hopefulness improbable
These ramrod blinds unbendable

Your gifts to your eldest son:

Absence ineffable
Erasure irredeemable
Disappointment inconsolable

Should I thank you?
Can whispered grace amend these hurts?
Or does sin purge all goodness?

#753 Tentang Gemuruh Ombak

Dalam gemuruh ombak itu
Ada desiran tawa gembira
Ada laungan jiwa yang meronta
Ada ngauman hati yang mendamba
Memanggil engkau yang terlalu jauh di mata

Pulanglah
Pulanglah ke pangkuan hamba
Yang merindu merayu memuja.