#681 Tentang Hujung Hari Kita Nanti (Terima Kasih, Ekuinas)

Di hujung hari-hari kita nanti
Pada sebalik seberkas kenangan
Mengejar kilasan kilau pelaburan
Menyantuni remehtemeh sang usahawan
Meniti baris-baris pelaporan dan keputusan
Melayan kerenah bos dan rakan sejawatan
Yang terkesan di sanubari adalah ini:
Kemesraan di meja persidangan
Bergurausenda dengan bersulam senyuman
Lambakan pisang goreng di pantry
Mengunyah kuih yang berkepuk kalori
Berkongsi gambar tempat makan
Bergiliran menyumbang santapan Ramadan
Menyelinap keluar berJJCM
Bertarung FPL selagak Slot dan Amorim
Berdagang gosip politik dan korporat
Menitip bingkisan biskut dan coklat
Menyaksikan rakan sekerja di jinjang pelamin
Meneguk kopi berdiskaun di Luckin
Jamuan farewell yang seolah tiada henti
Kata-kata persahabatan yang penuh erti

Terima kasih, Ekuinas
Jasa kalian tiada terbalas.

#680 Tentang Politikus Yang Munafik

Ambillah segala
Janji janji manis
Senyuman kambing sinis
Formula dasar dan gagasan
Warkah manifesto dan wawasan
Ambillah dan lumatkan
Lemangkan dan sematkan
Ke dalam lubang bontot kami
Sebagai balasan kerana terlalu naif
Mempercayai politikus yang munafik.

#679 On Satori (Sunday Morning)

Waking up and praying Subuh
Reciting His uncreated Words
The gentle chirp of birds outside my window
An early morning hike through Bukit Kiara
Ice cold fruit juice on the way down
Roti canai and idli, with crisp fried chicken
Iced coffee with honey
Michael Bolton singing “Go The Distance”
Sitting here with my beloved
And a good book:

- This is Satori.

#677 On Bad Words

Five years in and I learnt all the bad words
The terms of endearment smeared with vulgarity
The hollerings of young impudent boys at ease with the barbarity
Of curses and cuss words

Take me not back to those years of
Savage putdowns and uncertain jocularity
Of ravaged hearts and ruinous hilarity
The cruel currency of teenage boys

Instead, let me meditate on the noise and din
Of classrooms and the boys and girls within
The drama of pining hearts, the original sin
Of birds and bees playing their own parts
To perfection

We laughed in artful jest and mannered scorn
To mask our youthful hurts and hearts forlorn.

#676 Tentang Tuntunan Tuhan

Bukan jalan indah berwangi
Bukan taman menguntum salam
Tapi jalan bertatah duri
Tapi taman bersanggul tikam

Namun aku harus berharung
Harus gigih melawan uji
Agar bangsa bertuai untung
Agar diri meraih jati

Jangan gusar, janganlah rawan
Yakin pada tuntunan Tuhan.

#675 Tentang Kesibukan dan Hati Yang Berpalu

Di tengah-tengah kesibukan
Bangsar dan segala kekejarannya
Aku bersimpuh memohon keampunan
Mengucap nama-Mu Tuhan ar-Rahman
Mengucup dahi pada lantai maidan

Dengan jiwa penuh dahaga
Aku berteguk pada wadi Yang Maha Esa
Di lidahku mengalir kalimat-kalimat kudus
Mengalun mengubat hati yang tertandus

Tuhanku,
Redakan hatiku yang sering gering berpalu
Hanya pada-Mu aku berpaling mengadu.

#674 On This Red Line

This is where the line is drawn
Marked out here in crimson blaze
No white knight, no foolish pawn
I refuse your hollow praise
Go on, glance with murd’rous bile
My own stillness spurns your guile.

#672 Tentang Khutbah Jumaat

Beginilah jadinya 
Apabila kuasa membayangi segala

Maka pentas mingguan kini menjadi
Medan jajaan propaganda basi
Gesaan agar taat pada ululamri
Ingatan agar akur bertuli

Ah, apa nasib umat tersungkur!
Iman jadi alatan mandur
Jati diri kaku terbujur.